Sekayam,KIM DBT Desa Kenaman - Di jantung Kecamatan Sekayam, tepatnya di Desa Balai Karangan, berdiri sebuah tugu yang menjadi penanda sekaligus napas kehidupan warga. Tugu Simpang Tiga, demikian ia dikenal, bukan sekadar monumen biasa. Ia adalah saksi bisu denyut nadi perekonomian, ruang rehat bagi masyarakat, dan simbol pengharapan bagi banyak keluarga di ujung barat Kalimantan Barat.
Secara fisik, tugu ini mungkin tampak sederhana. Namun, lokasinya yang strategis di persimpangan menjadikannya titik temu yang tak terbantahkan. Ia menjadi penanda arah, tempat janji temu, dan landmark pertama yang menyambut siapa pun yang memasuki kawasan Balai Karangan. Keberadaannya telah melekat erat dalam ingatan kolektif warga Sekayam.
Yang membuat Tugu Simpang Tiga begitu hidup dan berjiwa adalah aktivitas di sekelilingnya. Para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memanfaatkan area sekitar tugu sebagai tempat berjualan. Beragam kuliner khas dan kebutuhan sehari-hari dijajakan dengan semangat. Dari pedagang bakso, penjual gorengan, hingga warung kopi sederhana—semua menghidupi ekonomi keluarga desa ini. Tugu ini telah bertransformasi dari sekadar tiang beton menjadi pusat ekonomi kerakyatan yang riuh rendah oleh transaksi dan senyum pembeli.
Lebih dari itu, Tugu Simpang Tiga telah menjadi ruang publik yang sangat berarti. Setelah lelah bekerja, masyarakat Sekayam dan desa-desa sekitarnya seringkali memilih untuk bersantai di bangku-bangku sekitar tugu. Suasana sore hari di sini selalu hangat: anak-anak bermain, remaja berkumpul, orang tua bertukar kabar, sambil menikmati udara sore. Interaksi sosial yang terjadi di sini memperkuat tali silaturahmi dan rasa kebersamaan. Tugu ini menjadi tempat di mana cerita dan tawa warga bertemu, mengisi ruang bersama dengan kehangatan.
Dengan demikian, Tugu Simpang Tiga bukanlah monumen mati. Ia adalah simbol penghidupan dan harapan. Bagi para pedagang, ia adalah "mitra" setia tempat mereka mencari rezeki. Bagi masyarakat, ia adalah "ruang keluarga" besar tempat mereka melepas penat. Ia mewakili semangat gotong royong dan ketahanan ekonomi warga Sekayam.
Keberadaan tugu ini mengajarkan bahwa sebuah ikon kota memperoleh nilainya bukan dari kemegahan fisik semata, melainkan dari bagaimana ia mampu menyentuh kehidupan warganya. Tugu Simpang Tiga Sekayam telah membuktikan bahwa monumen terhebat adalah yang bisa menjadi tiang penyangga kehidupan dan kebahagiaan masyarakat di sekitarnya. Ia berdiri tegak bukan hanya sebagai penanda geografis, tetapi sebagai penanda hati warga Sekayam.
Dokumentasi Foto: